Tuesday, December 16, 2014

Journey to Maturity

This time I just wanna share what I got from my church, JPCC, during these 2 months. JPCC’s theme for November and December is “Journey to Maturity”, which blesses me a lot. Bakalan panjang, but I bet you will get something if you finish it. So this is it. Tujuan kehidupan itu bukan kesempurnaan, tapi kedewasaan. Kesempurnaan itu ga mungkin ada dan ga mungkin bisa dikejar. Makanya, kita cuma butuh 1 hal: kedewasaan. Sering kali masalah ada karena ketidakdewasaan kita. Ada 3 fase dalam hidup kita:
  1. Fase ketergantungan/dependence. Fase ini ketika kita butuh orang lain yang lebih dewasa dari kita. Kita butuh orang lain karena kita ga ngerti yang mana yg baik, bahkan kita ga ngerti kalo kita disuruh sesuatu itu karena baik untuk diri kita. Contoh: anak kecil disuruh sikat gigi sama orangtua nya akan melakukannya dengan terpaksa. Dia lakuin pun cuma untuk orangtuanya. Dia ga ngerti kalo sikat gigi itu buat kebaikan dirinya sendiri.
  2. Fase mandiri/independent. Fase ini ketika seseorang udah mulai dewasa, sadar dan lakuin apa yang baik untuk dirinya sendiri. Contoh: anak yang udah besar bakal sikat gigi tanpa disuruh, karena dia ngerti kalo itu untuk kebaikan dirinya sendiri.
  3. Fase berbuah/inter-dependence. Fase ini ketika seseorang udah dewasa penuh dan mau lakuin bukan cuma untuk diri sendiri, tapi untuk orang lain dan mau bantu orang lain supaya jadi dewasa juga. Contoh: orangtua yang ngajarin dan maksa anaknya buat sikat gigi.


Fase kedewasaan ini berlaku di semua hal. Contohnya aja orang yg belom percaya Tuhan perlu didorong-dorong untuk ke gereja tiap minggu, perlu diajakin bahkan dijemputin sama orang lain. Orang itu mungkin perginya cuma ogah-ogahan. Tapi lama-lama ketika udah mulai dewasa, dia bisa pergi tanpa diajak, bahkan ketika udah dewasa dia bisa ajakin orang lain. Coba refleksi, ada ga hal yang kita belum dewasa. Karakter? sifat? kerohanian? pelayanan? Finansial?

Ada beberapa hal yang menurut gw menarik banget. Ketika kita lakuin sesuatu yang baik karena terpaksa, artinya kita belum dewasa. Contohnya, ketika gw terpaksa makan sayur, padahal gw tau sayur itu baik untuk gw, artinya gw belom dewasa (iye iye gw nyadar kok). Ketika kita sate masih karena rutinitas dan masih ga ada hasrat banget, artinya kita juga belom dewasa dalam hal itu. Jadi, do you have one?

Next. Ketika ada seseorang yang mungkin kita liat terus terima dan bersabar dengan ketidakdewasaan kita, bukan berarti dia ga berharap kita untuk jadi dewasa. Contohnya, ketika si dedek sabar koko nya ga makan sayur, bukan berarti dedek ga mau si koko jadi bisa makan sayur (I know, dek). Sama, ketika mungkin ada sifat u yg nyebelin dan ada orang yg sabar bgt hadepin u, bukan berarti mereka ga berharap u untuk berubah jadi baik. Jadi, untuk orang-orang tersebut, justru perlu berubah. Would you?


Our goal: fruitful. Alkitab ga pernah menyuruh kita untuk berhasil dalam hidup kita, tapi alkitab nyuruh kita untuk berbuah dalam hidup kita. Berhasil is about “me”, but berbuah is about “other people”. Di momen menjelang natal ini, Tuhan Yesus contoh nyata dari fruitful, Dia mau menanggalkan keAKUannya dan jadi manusia. So when we celebrate Christmas, kita perlu memaknai fruitful lebih lagi. Apa layak kita merayakan natal tapi fokus pada apa yang kita pikir kita layak dapatkan seperti hadiah, atau bahkan hal-hal yg terlihat rohani, misalnya kebaktian yang luar biasa, kemeriahan natal, drama natal yg menyentuh hati? Atau kita lebih baik melakukan sesuatu untuk keluarga, saudara, bahkan orang yang belum kenal Yesus? Karena bahagia itu adalah saat memberi, bukan menerima. Bukan “what I can get from other”, tapi “what can I do for others”.

No comments:

Post a Comment