there is always a line
a line that seperates 2 status
from only-friend to more-than-just-friend
they always say you just knew when you have crossed the line
when suddenly you are desperate to see that smile
when suddenly you want to spend more time together
when her joy is yours
when there is a reason for another tomorrow
when suddenly it all makes sense
that is when your heart leads you
to cross that line
in this story,
there is an anomaly
he knows exactly his heart has pulled him to cross the line
since a long time ago
but he holds back
afraid of getting hurt
afraid of just-loneliness-syndrome
afraid of... fighting
but then he realizes
there is no better explanation of what happened
in his smile because of hers
in his action for her
in his... life
no better answer other than..
his heart has crossed the line
waiting for him to cross the line too
or even pulling him
then he learns
crossing the line
it takes more than consciousness
it takes more than the heart leading him
it takes.. courage
big courage
so here he is
taking one big step
crossing the line
Product of Grace
An extraordinary boy with super extraordinary God
Thursday, April 6, 2017
Friday, June 3, 2016
What Love Is This?
So I have just had a tough week. Pulang dari outing weekend
yg kemarin, berasa badan ga enak. Demam, flu, badan nyeri semua. Outing sampai
Sabtu malam, Minggu pagi nya bahkan ga bisa bangun dari kasur buat ke gereja.
Untungnya sorenya udah enakan, jadi tetep bisa pergi jalan sama BFC. Sedihnya,
Senin pagi udah harus berangkat lagi ke Surabaya. Btw hari ini hari Jumat,
sampai kemarin masih belum 100% pulih. Jadi yang mau gw share adalah kejadian
kemarin.
Hari Rabu malam, pulang kerja-makan-mandi sampai jam 9. Tapi
abis itu, langsung tepar banget rasanya. Jadi langsung tidur. Besok paginya,
begitu nyalain HP, langsung ada telepon dari mami. Langsung ditanya gimana
kondisinya dan diocehin kenapa ga kasih kabar dan ga bisa ditelepon semaleman.
She said orang rumah kuatir. Abis itu, seharian bahkan sampe kemaren malem
diocehin disuruh ke dokter, atau bahkan pulang ke Jakarta. Dari chat sama mami,
entah kenapa dia bilang kalo dia sedih dan merasa bersalah banget ga bisa
jagain gw. Bahkan cici gw sampe bilang mami sampe nangis gara-gara kuatir. Ada
1 kejadian lagi. Jadi 2 hari yg lalu itu 1 Juni 2016, 2 tahun koko-dedek. Tapi begonya
gw, gw lupa banget. Bukan karena sakit jadi lupa. Baru inget pas dikasih tau
Adel kemarin pagi. Biarpun sedih, dia ga marah sama sekali.
Di perjalanan ke kantor, gw cuma bisa nangis, wondering “What
have I done, to receive this much love? I don’t deserve it at all”. Apa
hubungannya gw yang sakit orang lain yang nangis? Inget tanggal aja ga, tapi
bisa disayang sampai kayak gini. What love is this? I can’t even write proper
words to describe what I’m feeling, what I’m wondering about. But I can only
say: your love helps me understand God’s love. And I am really really thankful
for that.
Wednesday, April 6, 2016
A Box of Pizza
Can you imagine ordering a pizza? And the pizza guy shows up
at your hotel room tonight. And he’s got your pizza but he doesn’t have a box,
he just has it on his hand. And you don’t know where that hand has been, you don’t
know what he’s been doing with that. And can you imagine? You know the first
question you would ask him when he stands there and says “Hi, did you order
this pepperoni pizza?”, the first question you would ask is “Where is the box?”.
Because I was expecting the product to come in a vessel. I was expecting the
pizza to come in a box. What I want you to understand is:
The box is only worth
39 cents.
It’s not very valuable, but it takes on a tremendous important value,
because of what is placed in.
The box does not give
value to the product, it’s the product that gives value to the box.
We are just the vessel, and Christ is in us,
and we shouldn’t get puffed up when God starts using us, we are just the 39
cents box.
What I’m saying to you is:
You don’t have to be great,
you don’t have
to be super good looking and look like movie star,
you don’t have to be super
talented,
but you do have to be CLEAN
and you have to be EMPTY.
And if you just be clean and be empty,
God says:
If you give me a vessel,
I will give you
miracle,
I will give you my all,
I will give you my purpose,
I will give you will
for your life.
And that is enough
Those who cleanse themselves from the latter will be instruments for special purposes, made holy, useful to the Master and prepared to do any good work
- 2 Timothy 2:21 NIV -
Thursday, August 13, 2015
The HAND Who Holds
Pada jaman dahulu kala, sebuah keluarga kecil pergi ke luar kota dengan mobil. Mereka pergi bersama dengan keluarga besarnya. Setiap keluarga membawa kendaraan masing-masing. Akhir pekan yang sungguh menyenangkan. Dalam perjalanan pulang, bocah 10 tahun di keluarga itu sibuk belajar untuk ujian sejarah hari berikutnya. Ia duduk di 'kursi kerajaannya' di mobil, yaitu di atas kotak di sebelah kursi pengendara, yang seharusnya adalah tempat untuk menyimpan minuman ataupun kaset lagu. Ayahnya duduk di sebelah kanan mengendarai mobil, sang ibu duduk di sebelah kirinya sedang membantu si anak menghapal, saudara-saudara perempuannya duduk di belakang bersama 3 pembantu.
Mobil berjalan cepat di jalan tol, jauh meninggalkan mobil yang 1 grup lainnya di belakang. Tiba-tiba, roda belakang kanan mobil tersebut meledak. Tetapi mobil masih sempat berjalan beberapa ratus meter karena memang sedang dalam kecepatan tinggi. Semua yang ada di dalam mobil panik. Lalu tiba-tiba mobil terhempas ke kanan, berguling beberapa kali sampai akhirnya masuk ke jalur hijau pemisah jalan yang lebih rendah dari jalan. Just like scene in fast and furious movie.
Pada saat mobil tersebut terhempas, bocah yang duduk di 'kursi' yang tanpa sabuk pengaman tersebut, terlempar keluar mobil. Semua itu berlangsung sangat cepat. Pada saat bocah tersebut membuka mata, ia sudah duduk di atas rumput di sekitar 10 meter di depan mobil yang sudah dalam keadaan terbalik. Dari kejauhan ia melihat sang ayah berusaha keluar dari mobil, kemudian mencoba menarik anggota keluarga yang lain dari dalam mobil.
Pada saat rombongan mobil lainnya lewat, mereka melihat ada kecelakaan dan ada mobil yang sudah rusak parah. Sehingga mereka tidak mengenali mobil tersebut adalah mobil rombongan mereka sendiri. Mereka baru sadar ketika melihat bocah lelaki itu duduk di jalur hijau. Akhirnya dengan panik mereka berhenti dan ikut membantu. Apabila seseorang melihat kejadian dan mobil yang rusak parah tersebut, pasti akan dikira cerita ini adalah dongeng apabila saya katakan bahwa seluruh keluarga baik-baik saja.
Ya. Seluruh keluarga baik-baik saja. Hanya sang ibu dan 1 orang pembantu yang dilarikan ke rumah sakit karena ada memar sehingga perlu diperiksa. Sisanya melanjutkan perjalanan dan pulang dengan mobil lain. Bagaimana dengan bocah itu? He was totally fine. Hanya ada goresan sedikit, tetapi jatuh dari sepeda saja rasanya lebih parah luka nya. Remeber that he flew, broke the front window. Beruntung, itu yang ia pikirkan. He wasn't aware that saat ia terlempar ke depan, ada Tangan yang menangkapnya supaya ia tetap selamat.
Sampai 12 tahun setelahnya, akhirnya bocah tersebut sadar betul akan adanya Tangan tersebut. Ia bahkan dapat mengenal Pemilik tangan tersebut. Tangan yang sama adalah Tangan yang menariknya ketika ia mencoba lari, Tangan yang menangkapnya saat ia jatuh, Tangan yang menghapus air matanya, Tangan yang terus memegangnya erat sampai sekarang. Dan Tangan tersebut tidak akan berhenti di sini, That Hand will hold that boy forever.
Mobil berjalan cepat di jalan tol, jauh meninggalkan mobil yang 1 grup lainnya di belakang. Tiba-tiba, roda belakang kanan mobil tersebut meledak. Tetapi mobil masih sempat berjalan beberapa ratus meter karena memang sedang dalam kecepatan tinggi. Semua yang ada di dalam mobil panik. Lalu tiba-tiba mobil terhempas ke kanan, berguling beberapa kali sampai akhirnya masuk ke jalur hijau pemisah jalan yang lebih rendah dari jalan. Just like scene in fast and furious movie.
Pada saat mobil tersebut terhempas, bocah yang duduk di 'kursi' yang tanpa sabuk pengaman tersebut, terlempar keluar mobil. Semua itu berlangsung sangat cepat. Pada saat bocah tersebut membuka mata, ia sudah duduk di atas rumput di sekitar 10 meter di depan mobil yang sudah dalam keadaan terbalik. Dari kejauhan ia melihat sang ayah berusaha keluar dari mobil, kemudian mencoba menarik anggota keluarga yang lain dari dalam mobil.
Pada saat rombongan mobil lainnya lewat, mereka melihat ada kecelakaan dan ada mobil yang sudah rusak parah. Sehingga mereka tidak mengenali mobil tersebut adalah mobil rombongan mereka sendiri. Mereka baru sadar ketika melihat bocah lelaki itu duduk di jalur hijau. Akhirnya dengan panik mereka berhenti dan ikut membantu. Apabila seseorang melihat kejadian dan mobil yang rusak parah tersebut, pasti akan dikira cerita ini adalah dongeng apabila saya katakan bahwa seluruh keluarga baik-baik saja.
Ya. Seluruh keluarga baik-baik saja. Hanya sang ibu dan 1 orang pembantu yang dilarikan ke rumah sakit karena ada memar sehingga perlu diperiksa. Sisanya melanjutkan perjalanan dan pulang dengan mobil lain. Bagaimana dengan bocah itu? He was totally fine. Hanya ada goresan sedikit, tetapi jatuh dari sepeda saja rasanya lebih parah luka nya. Remeber that he flew, broke the front window. Beruntung, itu yang ia pikirkan. He wasn't aware that saat ia terlempar ke depan, ada Tangan yang menangkapnya supaya ia tetap selamat.
Sampai 12 tahun setelahnya, akhirnya bocah tersebut sadar betul akan adanya Tangan tersebut. Ia bahkan dapat mengenal Pemilik tangan tersebut. Tangan yang sama adalah Tangan yang menariknya ketika ia mencoba lari, Tangan yang menangkapnya saat ia jatuh, Tangan yang menghapus air matanya, Tangan yang terus memegangnya erat sampai sekarang. Dan Tangan tersebut tidak akan berhenti di sini, That Hand will hold that boy forever.
Thursday, July 30, 2015
THANK YOU
Thank You
By: The Katinas
https://www.youtube.com/watch?v=wJEPg7fKOtc
https://www.youtube.com/watch?v=wJEPg7fKOtc
Just a little while longer I wanna pray
Can't get You off my mind so I came to say
Thank You Lord just for loving me
Many times as I do forget
Every need that You have met
Oh thank You Lord, I know You're showing me
You are there when I am down and out
You're holding me, Your love is so amazing
Oh it changed me
Can't get You off my mind so I came to say
Thank You Lord just for loving me
Many times as I do forget
Every need that You have met
Oh thank You Lord, I know You're showing me
You are there when I am down and out
You're holding me, Your love is so amazing
Oh it changed me
Chorus:
Here I am with all I am
Raise my hands to worship You
I wanna say thank you, oh thank you
For everything, for who You are
You cover me, You touch my heart
I wanna say thank you
Raise my hands to worship You
I wanna say thank you, oh thank you
For everything, for who You are
You cover me, You touch my heart
I wanna say thank you
I could have died in my sin but You saved me
Didn't have any hope at all
You gave me peace divine, strength to carry on
I should have been the one to pay
But instead You took my place
My Jesus, words cannot explain
Even though I don't deserve Your love for me
You look beyond my fault and You showed mercy
Didn't have any hope at all
You gave me peace divine, strength to carry on
I should have been the one to pay
But instead You took my place
My Jesus, words cannot explain
Even though I don't deserve Your love for me
You look beyond my fault and You showed mercy
Chorus
I wanna say thank you for the sun
I wanna say thank you for the rain
Everything You do is beautiful
I'm so grateful for Your love
I wanna say thank you for the rain
Everything You do is beautiful
I'm so grateful for Your love
Tuesday, July 7, 2015
Si Jam 6
Hampir semua pasti tau cerita di Matius 20:1-16, tentang kerajaan surga seperti tuan dan pekerja kebun anggur. Jadi ceritanya ada seorang tuan hire 1 kumpulan orang jam 6 pagi, janji akan diupah 1 dinar untuk kerja seharian. Lalu jam 9, jam 12, jam 3, dan jam 5 tuan itu keluar lagi untuk mencari pekerja lain, tanpa ada perjanjian berapa upahnya.
Supaya gampang, let's name them:
pekerja yg dari pagi kita sebut si jam 6
pekerja yg dari jam 9 kita sebut si jam 9
dst untuk si jam 12, si jam 3, dan si jam 5
Cerita ini kaya banget. Setiap tokoh bisa mengajarkan banyak bgt hal. Untuk kali ini, let's focus on si jam 6. Sisanya disimpen untuk post selanjutnya. Jadi ceritanya, pas jam 6 sore si tuan suruh sang mandur buat bayar upah pekerja-pekerja itu. Dimulai dari si jam 5 dikasih dinar, si jam 3 dikasih 1 dinar, dst. Menariknya, pembagian upah itu dilakukan di depan semuanya. Jadi ketika si jam 6 liat si jam 5, 3, 12, 9 dapet 1 dinar, dia berharap banget dapet lebih dari 1 dinar, karena memang dia sudah bekerja jauh lebih lama dari mereka. Dan ternyata spt yg kita tau, akhirnya si jam 6 dapet 1 dinar jugaa, langsung lah terjadi demo buruh pertama yg dicatat oleh alkitab.
Apa relevansi cerita itu? Sering kali kita kayak si jam 6. Kita merasa kita sudah kerja paling mati-matian, pelayanan paling maksimal, kasih semua waktu dan harta kita. Tapi justru kita melihat orang lain yang kerjanya lebih mudah, jauh lebih diberkati. Misalnya nilainya lebih bagus, keluarga nya sangat diberkati, punya pacar cakep. Dan spt cerita di atas, Tuhan memberkati orang tersebut di depan mata kita! Dan pada itu kita langsung ngarep dapet lebih dari orang tersebut, tapi ternyata kita mendapat tidak sesuai dengan apa yg kita pikirkan. Langsung kita pun demo sama Tuhan. Keadaan si jam 6 sama seperti keadaan si anak sulung di Lukas 15. Si sulung merasa tidak pernah mendapat apa yg ia pikir ia layak dapatkan jika dibandingkan dengan apa yg didapat oleh si bungsu.
"Ga adil!" Itu selalu jadi respon kita. Tapi apa kamu tau apa yang lebih tidak adil? Ada seseorang yang mau mati menebus engkau. Ia mau menebus apa yang sebenarnya memang milikNya. Kita adalah milikNya. Tapi karena kebodohan manusia yang memilih untuk menjadi budak dosa, Ia mau menebus apa yang memang milikNya. Dan kita menerima keselamatan itu secara cuma-cuma, THAT IS THE ULTIMATE UNFAIRNESS. Kalau memang Tuhan menjadi adil versimu, engkau tidak akan menerima penebusan itu.
Kalau engkau paham sungguh hal itu, masih layakkah engkau berbicara soal adil atau tidak adil kepada Tuhan based on apa yang kamu terima? Masih layak kah engkau kecewa ketika tidak mendapat pengakuan, hasil, penghargaan seperti yang engkau harapkan jika dibandingkan dengan orang lain? Atau engkau lebih memilih ikut bersukacita atas kemurahan Tuhan atas si jam 9,12,3,5? Ikut berpesta atas kembalinya si bungsu?
*note to myself too*
Supaya gampang, let's name them:
pekerja yg dari pagi kita sebut si jam 6
pekerja yg dari jam 9 kita sebut si jam 9
dst untuk si jam 12, si jam 3, dan si jam 5
Cerita ini kaya banget. Setiap tokoh bisa mengajarkan banyak bgt hal. Untuk kali ini, let's focus on si jam 6. Sisanya disimpen untuk post selanjutnya. Jadi ceritanya, pas jam 6 sore si tuan suruh sang mandur buat bayar upah pekerja-pekerja itu. Dimulai dari si jam 5 dikasih dinar, si jam 3 dikasih 1 dinar, dst. Menariknya, pembagian upah itu dilakukan di depan semuanya. Jadi ketika si jam 6 liat si jam 5, 3, 12, 9 dapet 1 dinar, dia berharap banget dapet lebih dari 1 dinar, karena memang dia sudah bekerja jauh lebih lama dari mereka. Dan ternyata spt yg kita tau, akhirnya si jam 6 dapet 1 dinar jugaa, langsung lah terjadi demo buruh pertama yg dicatat oleh alkitab.
Apa relevansi cerita itu? Sering kali kita kayak si jam 6. Kita merasa kita sudah kerja paling mati-matian, pelayanan paling maksimal, kasih semua waktu dan harta kita. Tapi justru kita melihat orang lain yang kerjanya lebih mudah, jauh lebih diberkati. Misalnya nilainya lebih bagus, keluarga nya sangat diberkati, punya pacar cakep. Dan spt cerita di atas, Tuhan memberkati orang tersebut di depan mata kita! Dan pada itu kita langsung ngarep dapet lebih dari orang tersebut, tapi ternyata kita mendapat tidak sesuai dengan apa yg kita pikirkan. Langsung kita pun demo sama Tuhan. Keadaan si jam 6 sama seperti keadaan si anak sulung di Lukas 15. Si sulung merasa tidak pernah mendapat apa yg ia pikir ia layak dapatkan jika dibandingkan dengan apa yg didapat oleh si bungsu.
"Ga adil!" Itu selalu jadi respon kita. Tapi apa kamu tau apa yang lebih tidak adil? Ada seseorang yang mau mati menebus engkau. Ia mau menebus apa yang sebenarnya memang milikNya. Kita adalah milikNya. Tapi karena kebodohan manusia yang memilih untuk menjadi budak dosa, Ia mau menebus apa yang memang milikNya. Dan kita menerima keselamatan itu secara cuma-cuma, THAT IS THE ULTIMATE UNFAIRNESS. Kalau memang Tuhan menjadi adil versimu, engkau tidak akan menerima penebusan itu.
Kalau engkau paham sungguh hal itu, masih layakkah engkau berbicara soal adil atau tidak adil kepada Tuhan based on apa yang kamu terima? Masih layak kah engkau kecewa ketika tidak mendapat pengakuan, hasil, penghargaan seperti yang engkau harapkan jika dibandingkan dengan orang lain? Atau engkau lebih memilih ikut bersukacita atas kemurahan Tuhan atas si jam 9,12,3,5? Ikut berpesta atas kembalinya si bungsu?
*note to myself too*
Friday, July 3, 2015
Empty Box of Pizza
Can you imagine ordering a pizza? Then the pizza guy showed up in front of your house, and he's got your pizza but not the box. He just held it on his bare hand. Maybe you will be confused, and the first thing you would ask is: "where's the pizza?". Then the pizza guy said: "You only ordered this pepperoni pizza. You didn't order the box. And here's you got what you ordered". I will let you imagine what you guys would do to the pizza guy.
What I'm trying to say is that the box is much cheaper than the pizza. Maybe it's only 50 cents while the pizza costs 10 bucks. It is not very valuable if we look at the price. But it holds tremendous important value because of what is placed in. The box doesn't give value to the product, it is the product that gives value to the box.
The fact is we are only the vessel and Christ is in us. So we shouldn't get puffed up when God starts using us. We are just the 50 cents box. You don't have to be great, good looking, smart, or super talented. But like what the box needs to be, we just need to be CLEAN and EMPTY. By making it empty and clean, God can fill our life with everything good for His glory.
Subscribe to:
Comments (Atom)
