Hampir semua pasti tau cerita di Matius 20:1-16, tentang kerajaan surga seperti tuan dan pekerja kebun anggur. Jadi ceritanya ada seorang tuan hire 1 kumpulan orang jam 6 pagi, janji akan diupah 1 dinar untuk kerja seharian. Lalu jam 9, jam 12, jam 3, dan jam 5 tuan itu keluar lagi untuk mencari pekerja lain, tanpa ada perjanjian berapa upahnya.
Supaya gampang, let's name them:
pekerja yg dari pagi kita sebut si jam 6
pekerja yg dari jam 9 kita sebut si jam 9
dst untuk si jam 12, si jam 3, dan si jam 5
Cerita ini kaya banget. Setiap tokoh bisa mengajarkan banyak bgt hal. Untuk kali ini, let's focus on si jam 6. Sisanya disimpen untuk post selanjutnya. Jadi ceritanya, pas jam 6 sore si tuan suruh sang mandur buat bayar upah pekerja-pekerja itu. Dimulai dari si jam 5 dikasih dinar, si jam 3 dikasih 1 dinar, dst. Menariknya, pembagian upah itu dilakukan di depan semuanya. Jadi ketika si jam 6 liat si jam 5, 3, 12, 9 dapet 1 dinar, dia berharap banget dapet lebih dari 1 dinar, karena memang dia sudah bekerja jauh lebih lama dari mereka. Dan ternyata spt yg kita tau, akhirnya si jam 6 dapet 1 dinar jugaa, langsung lah terjadi demo buruh pertama yg dicatat oleh alkitab.
Apa relevansi cerita itu? Sering kali kita kayak si jam 6. Kita merasa kita sudah kerja paling mati-matian, pelayanan paling maksimal, kasih semua waktu dan harta kita. Tapi justru kita melihat orang lain yang kerjanya lebih mudah, jauh lebih diberkati. Misalnya nilainya lebih bagus, keluarga nya sangat diberkati, punya pacar cakep. Dan spt cerita di atas, Tuhan memberkati orang tersebut di depan mata kita! Dan pada itu kita langsung ngarep dapet lebih dari orang tersebut, tapi ternyata kita mendapat tidak sesuai dengan apa yg kita pikirkan. Langsung kita pun demo sama Tuhan. Keadaan si jam 6 sama seperti keadaan si anak sulung di Lukas 15. Si sulung merasa tidak pernah mendapat apa yg ia pikir ia layak dapatkan jika dibandingkan dengan apa yg didapat oleh si bungsu.
"Ga adil!" Itu selalu jadi respon kita. Tapi apa kamu tau apa yang lebih tidak adil? Ada seseorang yang mau mati menebus engkau. Ia mau menebus apa yang sebenarnya memang milikNya. Kita adalah milikNya. Tapi karena kebodohan manusia yang memilih untuk menjadi budak dosa, Ia mau menebus apa yang memang milikNya. Dan kita menerima keselamatan itu secara cuma-cuma, THAT IS THE ULTIMATE UNFAIRNESS. Kalau memang Tuhan menjadi adil versimu, engkau tidak akan menerima penebusan itu.
Kalau engkau paham sungguh hal itu, masih layakkah engkau berbicara soal adil atau tidak adil kepada Tuhan based on apa yang kamu terima? Masih layak kah engkau kecewa ketika tidak mendapat pengakuan, hasil, penghargaan seperti yang engkau harapkan jika dibandingkan dengan orang lain? Atau engkau lebih memilih ikut bersukacita atas kemurahan Tuhan atas si jam 9,12,3,5? Ikut berpesta atas kembalinya si bungsu?
*note to myself too*
No comments:
Post a Comment